🌾 Padang Sikabu: Dari Hamparan Kabu
Menuju Cahaya Perubahan di Kuala Batee
Di antara hamparan hijau sawah dan gemericik aliran sungai kecil di pesisir barat Aceh, berdirilah sebuah gampong yang tenang namun sarat makna sejarah: Padang Sikabu.
Nama itu mungkin terdengar sederhana, tapi di baliknya tersimpan kisah panjang tentang kerajaan, adat, dan semangat masyarakat yang tak pernah padam menghadapi perubahan zaman.
Konon, dahulu kala wilayah ini dipenuhi pohon kabu—sejenis tumbuhan rawa berbatang ramping yang tumbuh subur di tanah lembab. Dari situlah masyarakat setempat menamakan daerah ini Padang Sikabu, artinya hamparan padang yang ditumbuhi pohon kabu. Namun seiring waktu, kata “Sikabu” tak lagi hanya merujuk pada tumbuhan, melainkan menjadi simbol kebersahajaan dan keteguhan hidup masyarakatnya.
🏰 Jejak Kerajaan di Tanah Kabu
Jika kita menelusuri sejarahnya, Padang Sikabu merupakan bagian penting dari Kerajaan Kuala Batee—sebuah kerajaan pesisir yang dulu berpengaruh di kawasan Aceh Barat Daya. Pada masa itu, pemerintahan diatur dalam sistem mukim, dan Padang Sikabu menjadi salah satu gampong utama dalam Mukim Sikabu. Pemimpin tradisional seperti keujruen chik dan imeum mukim memegang peran sentral dalam menjaga hukum adat dan kehidupan sosial masyarakat.
Meski kini kerajaan itu telah lama hilang ditelan waktu, semangat kebersamaan dan struktur sosialnya masih terasa dalam keseharian masyarakat. Musyawarah gampong, gotong royong, dan semangat meuseuraya (kerja bersama) tetap menjadi denyut kehidupan warga Padang Sikabu.
🌙 Tradisi yang Tak Lekang oleh Waktu
Salah satu warisan budaya yang masih lestari adalah Khanduri Hudep—sebuah tradisi syukuran yang diadakan dalam berbagai momen penting seperti kelahiran, khitanan, pernikahan, bahkan kematian. Di setiap Khanduri Hudep, aroma masakan kari Aceh yang menggoda tercium dari dapur-dapur rumah. Warga berkumpul, berdoa, dan makan bersama sambil saling bertukar cerita tentang kehidupan. Tradisi ini menjadi wujud nyata dari nilai sosial dan spiritual masyarakat Padang Sikabu: sederhana tapi penuh makna.
Selain Khanduri Hudep, masyarakat juga masih menjaga Khanduri Maulid dan Turun Tanah, dua upacara yang mencerminkan perpaduan antara adat dan Islam. Di sinilah agama bukan hanya ritual, tapi bagian dari keseharian yang mengikat hubungan antarwarga.
Baca juga:
🌅 Angin Pembaruan dari Muhammadiyah
Sekitar tahun 1950-an, ketika arus modernisasi mulai menyentuh pesisir barat Aceh, datanglah semangat baru melalui gerakan Muhammadiyah. Beberapa guru dan tokoh muda dari Blangpidie dan Meulaboh mulai memperkenalkan cara berpikir Islam yang rasional, berpendidikan, dan berorientasi pada kemajuan. Padang Sikabu pun ikut tersentuh oleh gerakan ini. Perlahan-lahan muncul kelompok pengajian, sekolah Islam, dan kegiatan sosial yang menghidupkan suasana baru di tengah masyarakat.
Namun, menariknya, masyarakat Padang Sikabu tidak menolak perubahan itu. Mereka justru menggabungkannya dengan adat dan tradisi lokal. Hasilnya, lahirlah corak keislaman yang khas—terbuka terhadap pembaruan, tapi tetap berpijak pada akar budaya Aceh yang kuat.
👥 Kepemimpinan Baru, Semangat Lama
Kini, Padang Sikabu telah banyak berubah. Jalan-jalan desa mulai beraspal, rumah-rumah berdiri megah di antara kebun kelapa dan sawah yang hijau. Namun di tengah perubahan itu, semangat kebersamaan tetap terjaga.
Di bawah kepemimpinan M. Ali, keuchik yang terpilih secara demokratis pada tahun 2022, masyarakat Padang Sikabu terus bergerak maju. Melalui program seperti Koperasi Merah Putih Padang Sikabu, warga diajak untuk memperkuat ekonomi desa dan menghidupkan kembali nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh.
Setiap kegiatan desa selalu melibatkan warga: dari rapat gampong hingga kegiatan sosial dan keagamaan. Tak jarang, keuchik dan para pemuda turun langsung membersihkan meunasah, memperbaiki jalan, atau menanam pohon bersama. Inilah potret kecil bagaimana adat dan modernitas berpadu dalam harmoni.
🌾 Antara Masa Lalu dan Masa Depan
Padang Sikabu bukan sekadar sebuah nama di peta. Ia adalah ruang hidup, tempat nilai-nilai lama dan semangat baru saling berdialog. Di sinilah jejak masa lalu masih menuntun langkah masa depan.
Dari cerita tentang kerajaan yang hilang, tradisi khanduri yang tetap hidup, hingga semangat Muhammadiyah yang membawa pencerahan—semuanya berpadu membentuk identitas unik masyarakat Padang Sikabu. Sebuah identitas yang tidak kaku terhadap perubahan, tapi juga tidak lupa akar sejarahnya.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sejati gampong ini: menjadi cermin kecil dari Aceh yang mampu berubah tanpa kehilangan jati dirinya. [sr]
✍️ Referensi Naratif
-
Wawancara dengan tokoh masyarakat Padang Sikabu, 2024.
-
Atjehwatch.com (2021, 2025) – berbagai laporan tentang kepemimpinan dan kegiatan sosial di Kuala Batee.
-
Readers.id (2022) – “M. Ali Terpilih Sebagai Keuchik Padang Sikabu Abdya.”
-
Reid, Anthony. An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra (2005).
-
Snouck Hurgronje. The Achehnese (1906).
-
Catatan lapangan dan observasi penulis, 2023–2025.